success in organization and activities
Before discussing how to succeed in the organization and activities, we must first understand the basic concept. in carrying out the activities we have to know and understand that the target audience is king, and committee activities is ministry. yes, the same concept in buying and selling. why did I take this basic concept, because when we positioned the participants as king then any activity undertaken by the committee will lead to kabikan, comfort, safety, and rights of participants. we often encounter the committee is always selfish in determining all aspects of the activities without thinking of the rights of participants. just imagine when all the committee have the same view that the participant is the king of the activities that he forged the concept will give a positive impression to the participants. and reciprocal activities that will be enjoyed by participants and automatically when participants enjoy activities without complaints, and other critics say that the campaign was successful. therefore the committee must be completely dedicated himself as a servant of participants. not mean that in order to be a servant-order. just enough to devote thought and energy, spirit, etc. for the rights of participants in the activity. everything must be thought out, from the comfort, safety, cleanliness, food, materials, and other rights.
nah how to organize? whether the concept of the king and the waitress was still in use. yes it could be, but that's not enough. many of the concepts that must be realized and used as the basis for your guidance organizers. but it is our further discussion in the next post.
Senin, 23 September 2013
Kamis, 05 September 2013
Posting With Allah part 5 ( cerita do'a nabi ayub )
Nabi Ayyub A.S. adalah salah seorang nabi yang terkenal kaya raya
dengan harta yang melimpah dan jumlah ternak yang luar biasa banyaknya.
Namun Walaupun demikian, Nabi Ayyub A.S. tetap tekun beribadah kepada
Allah dan tidak berhenti-berhentinya melakukan kebajikan. Nabi Ayyub
juga terkenal suka menolong orang-orang yang menderita, terutama mereka
yang termasuk kaum fakir miskin.
Para malaikat di langit terkagum-kagum dan membicarakan tentang ketaatan Ayyub dan keikhlasannya dalam beribadah kepada Allah. Iblis yang mendengar pembicaraan para malaikat ini merasa iri dan ingin menjerumuskan Ayyub agar menjadi orang yang tidak sabar dan celaka.
Mula-mula iblis mencoba sendiri menggoda Nabi Ayyub agar tersesat dan tidak bersyukur kepada Allah, namun usahanya ini gagal, Nabi Ayyub tetap tak tergoyahkan. Lalu iblis menghadap Allah, meminta agak ia diizinkan untuk menguji keikhlasan Nabi Ayyub. Iblis berkata, “Wahai Tuhan, sesungguhnya Ayyub senantiasa patuh dan berbakti kepada-Mu, senantiasa memuji-Mu, tak lain hanyalah karena takut kehilangan kenikmatan yang telah Engkau berikan kepadanya, karena ia ingin kekayaannya tetap terpelihara. Semua ibadahnya bukan karena ikhlas, cinta, dan taat kepada-Mu. Andaikata ia terkena musibah dan kehilangan harta benda, serta anak-anak dan istrinya, belum tentu ia akan tetap taat dan ikhlas menyembah-Mu.”
Allah berfirman kepada iblis, “Sesungguhnya Ayyub adalah hamba-Ku yang sangat taat kepada-Ku. Ia sesorang mu’min sejati. Apa yang ia lakukan untuk mendekatkan diri kepada-Ku adalah semata-mata didorong iman yang teguh kepada-Ku. Iman dan taqwanya takkan tergoyahkan hanya oleh perubahan keadaan duniawi. Cintanya kepada-Ku takkan berkurang walaupun ditimpa musibah apa pun yang melanda dirinya, karena ia yakin bahwa apa yang ia miliki adalah pemberian-Ku yang sewaktu-waktu dapat Aku cabut daripadanya, atau Ku-jadikan berlipat ganda. Ia bersih dari segala tuduhan dan prasangkamu.
Engkau tidak rela melihat hamba-hamba-Ku, anak cucu Adam, berada di atas jalan yang lurus. Untuk menguji keteguhan hati Ayyub dan keimanannya pada takdir-Ku, Ku-izinkan kau menggoda dan mencoba memalingkannya dari-Ku. Kerahkan seluruh pembantu-pembantumu untuk menggoda Ayyub melalui harta dan keluarganya. Cerai beraikan keluarganya yang rukun damai sejahtera itu. Lihatlah, sampai dimana kemampuanmu untuk menyesatkan Ayyub hamba-Ku.”
Setelah itu, iblis dan para pembantunya mulai menyerbu keimanan Nabi Ayyub A.S. Mula-mula mereka membinasakan hewan ternak pemeliharaan Ayyub, disusul lumbung-lumbung gandum dan lahan pertaniannya dibakar hingga musnah.
Iblis mengira Nabi Ayyub A.S. akan berkeluh kesah setelah kehilangan ternak dan pertaniannya, namun ternyata Nabi Ayyub as tetap berhusnuzhon (berbaik sangka) kepada Allah. Segalanya ia pasrahkan kepada Allah. Harta adalah titipan Allah yang sewaktu-waktu dapat saja diambil kembali.
Berikutnya iblis mendatangi putra-putra Nabi Ayyub AS yang sedang berada di sebuah gedung yang besar dan megah. Mereka menggoyang-goyangkan tiang-tiang gedung sehingga gedung itu roboh dan membuat anak-anak dari Nabi Ayyub A.S. yang berada di dalamnya meninggal.
Iblis mengira usahanya kali ini akan berhasil menggoyahkan iman dari Nabi Ayyub yang memang sangat menyayangi putra-putranya itu, namun sekali lagi mereka harus kecewa. Nabi Ayyub tetap berserah diri kepada Allah. Ia memang bersedih hati dan menangis, tapi jiwa dan hatinya tetap kokoh dalam keyakinan bahwa jika Allah yang Maha Pemberi menghendaki sesuatu, tak ada seorang pun yang mampu menghalangi-Nya.
Iblis yang masih belum puas, lalu menaruh baksil di sekujur tubuh Nabi Ayyub sehingga beliau menderita penyakit kulit yang sangat menjijikkan, hingga ia dijauhi sanak famili dan tetangganya. Istri-istrinya banyak yang lari meninggalkannya, hanya seorang saja yang tetap setia mendampinginya, yaitu Rahmah. Lebih parah lagi, para tetangga Nabi Ayyub AS yang tidak mau ketularan penyakit yang diderita Nabi Ayyub, mengusirnya dari kampung mereka. Maka pergilah Nabi Ayyub dan istrinya Rahmah ke sebuah tempat yang sepi dari manusia.
Waktu 7 tahun dalam penderitaan terus-menerus memang merupakan ujian terberat bagi Ayyub dan Rahmah, namun Nabi Ayyub tetap bersabar dan berzikir menyebut Asma Allah. Diriwayatkan bahwa istrinya berkata, “Hai Ayyub, seandainya engkau berdoa kepada Tuhanmu, niscaya dia akan membebaskanmu.”
Namun Nabi Ayyub AS malah menjawab, “Aku telah hidup selama 70 tahun dalam keadaan sehat, dan Allah baru mengujiku dalam keadaan sakit selama 7 tahun. Ketahuilah, itu amat sedikit dibandingkan masa 70 tahun.”
Begitulah, Nabi Ayyub menerima ujian dari Allah SWT dengan sabar dan ikhlas. Ia telah hidup dalam kenikmatan selama puluhan tahun, maka ia merasa malu untuk berkeluh kesah kepada Allah SWT atas kesengsaraan yang hanya beberapa tahun. Sakit Nabi Ayyub membuat tidak ada lagi anggota badannya yang utuh kecuali jantung/hati dan lidahnya. Dengan hati dan lidahnya ini, Nabi Ayyub AS tak pernah berhenti berzikir kepada Allah, baik di waktu pagi, siang, sore dan malam hari.
Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, Rahmah terpaksa bekerja pada suatu pabrik roti. Pagi ia berangkat, sorenya ia kembali ke rumah pengasingan. Namun lama-kelamaan majikannya mengetahui bahwa Rahmah adalah istri Nabi Ayyub yang memiliki penyakit berbahaya. Mereka khawatir Rahmah akan membawa baksil yang dapat menular melalui roti, oleh sebab itu mereka kemudian memecatnya.
Rahmah yang setia ini masih memikirkan suaminya. Ia meminta agar majikannya berkenan memberinya hutang roti, tetapi permintaannya ini ditolak. Majikannya hanya mau memberinya roti jika ia memotong gelung rambutnya yang panjang, padahal gelung rambut itu sangat disukai suaminya. Namun demi untuk mendapatkan roti, Rahmah akhirnya setuju dengan usul majikannya itu.
Ternyata, perbuatannya itu membuat Ayyub menduga bahwa ia telah menyeleweng. Akhirnya pada suatu hari, mungkin karena sudah tidak tahan dengan penderitaan yang terus-menerus dihadapi, Rahmah pamit untuk meninggalkan suaminya. Ia beralasan ingin bekerja agar dapat menghidupi suaminya. Nabi Ayyub melarangnya, tapi Rahmah tetap bersikeras sembari berkeluh kesah. Sesungguhnya tindakan Rahmah ini pun tak lepas dari peranan iblis yang menghasutnya untuk meninggalkan suaminya Ayyub.
Mendengar keluh kesah istrinya, berkatalah Ayyub, “Kiranya kau telah terkena bujuk rayu iblis, sehingga berkeluh kesah atas takdir Allah. Awas, kelak jika aku telah sembuh kau akan kupukul seratus kali. Mulai saat ini tinggalkan aku seorang diri, aku tak membutuhkan pertolonganmu sampai Allah menentukan takdir-Nya.”
Dengan demikian tinggallah kini Nabi Ayyub seorang diri setelah ia mengusir Rahmah istrinya. Di tengah kesendiriannya, Nabi Ayyub AS bermunajat kepada Allah SWT dengan sepenuh hati memohon rahmat dan kasih-Nya. Allah SWT menerima doa Nabi Ayyub AS yang telah mencapai puncak kesabaran dan keteguhan iman dalam menghadapi ujian dan cobaan. Berfirmanlah Ia kepada Nabi Ayyub, “Hantamkanlah kakimu ke tanah. Dari situ akan memancar air yang dengannya kau akan sembuh dari penyakitmu. Kesehatanmu akan pulih jika kau mempergunakannya untuk minum dan mandi.”
Setelah meminum dan mandi dengan air itu, Ayyub pun sembuh seperti sedia kala. Sementara itu Rahmah istrinya yang telah pergi meninggalkannya, rupanya lama-kelamaan merasa kasihan dan tak tega membiarkan suaminya seorang diri. Ia datang untuk menjenguk, namun ia tak mengenali lagi suaminya, karena kini Nabi Ayyub tampak lebih sehat, lebih segar, dan lebih tampan. Nabi Ayyub sangat gembira melihat istrinya kembali, namun ia teringat sumpahnya yaitu ingin memukul istrinya seratus kali. Ia harus melaksanakan sumpah itu, tapi ia bimbang karena bagaimanapun istrinya telah turut menderita sewaktu bersamanya 7 tahun ini. Tegakah ia memukulnya seratus kali?
Allah mengetahui kebimbangan yang dirasakan Nabi Ayyub AS. Maka datanglah wahyu Allah kepada Nabi Ayyub, “Hai Ayyub, ambillah lidi seratus batang dan pukullah istrimu sekali saja. Dengan demikian tertebuslah sumpahmu.”
Nabi Ayyub merasa lega dengan jalan keluar yang diwahyukan Allah itu. Dengan lidi seratus, dipukulnya istrinya dengan satu kali pukulan yang sangat pelan, maka sumpahnya telah terlaksana.
Berkat kesabaran dan keteguhan imannya, Nabi Ayyub AS dikaruniai lagi harta benda yang melimpah ruah. Dari Rahmah, ia kemudian memperoleh anak bernama Basyar yang kemudian hari menjadi seorang nabi yang dikenal dengan nama Zulkifli.
Sumber : http://johanfirdaus.zo-ka01.com/2009/09/kisah-nabi-nabi-nabi-ayyub-as/
Para malaikat di langit terkagum-kagum dan membicarakan tentang ketaatan Ayyub dan keikhlasannya dalam beribadah kepada Allah. Iblis yang mendengar pembicaraan para malaikat ini merasa iri dan ingin menjerumuskan Ayyub agar menjadi orang yang tidak sabar dan celaka.
Mula-mula iblis mencoba sendiri menggoda Nabi Ayyub agar tersesat dan tidak bersyukur kepada Allah, namun usahanya ini gagal, Nabi Ayyub tetap tak tergoyahkan. Lalu iblis menghadap Allah, meminta agak ia diizinkan untuk menguji keikhlasan Nabi Ayyub. Iblis berkata, “Wahai Tuhan, sesungguhnya Ayyub senantiasa patuh dan berbakti kepada-Mu, senantiasa memuji-Mu, tak lain hanyalah karena takut kehilangan kenikmatan yang telah Engkau berikan kepadanya, karena ia ingin kekayaannya tetap terpelihara. Semua ibadahnya bukan karena ikhlas, cinta, dan taat kepada-Mu. Andaikata ia terkena musibah dan kehilangan harta benda, serta anak-anak dan istrinya, belum tentu ia akan tetap taat dan ikhlas menyembah-Mu.”
Allah berfirman kepada iblis, “Sesungguhnya Ayyub adalah hamba-Ku yang sangat taat kepada-Ku. Ia sesorang mu’min sejati. Apa yang ia lakukan untuk mendekatkan diri kepada-Ku adalah semata-mata didorong iman yang teguh kepada-Ku. Iman dan taqwanya takkan tergoyahkan hanya oleh perubahan keadaan duniawi. Cintanya kepada-Ku takkan berkurang walaupun ditimpa musibah apa pun yang melanda dirinya, karena ia yakin bahwa apa yang ia miliki adalah pemberian-Ku yang sewaktu-waktu dapat Aku cabut daripadanya, atau Ku-jadikan berlipat ganda. Ia bersih dari segala tuduhan dan prasangkamu.
Engkau tidak rela melihat hamba-hamba-Ku, anak cucu Adam, berada di atas jalan yang lurus. Untuk menguji keteguhan hati Ayyub dan keimanannya pada takdir-Ku, Ku-izinkan kau menggoda dan mencoba memalingkannya dari-Ku. Kerahkan seluruh pembantu-pembantumu untuk menggoda Ayyub melalui harta dan keluarganya. Cerai beraikan keluarganya yang rukun damai sejahtera itu. Lihatlah, sampai dimana kemampuanmu untuk menyesatkan Ayyub hamba-Ku.”
Setelah itu, iblis dan para pembantunya mulai menyerbu keimanan Nabi Ayyub A.S. Mula-mula mereka membinasakan hewan ternak pemeliharaan Ayyub, disusul lumbung-lumbung gandum dan lahan pertaniannya dibakar hingga musnah.
Iblis mengira Nabi Ayyub A.S. akan berkeluh kesah setelah kehilangan ternak dan pertaniannya, namun ternyata Nabi Ayyub as tetap berhusnuzhon (berbaik sangka) kepada Allah. Segalanya ia pasrahkan kepada Allah. Harta adalah titipan Allah yang sewaktu-waktu dapat saja diambil kembali.
Berikutnya iblis mendatangi putra-putra Nabi Ayyub AS yang sedang berada di sebuah gedung yang besar dan megah. Mereka menggoyang-goyangkan tiang-tiang gedung sehingga gedung itu roboh dan membuat anak-anak dari Nabi Ayyub A.S. yang berada di dalamnya meninggal.
Iblis mengira usahanya kali ini akan berhasil menggoyahkan iman dari Nabi Ayyub yang memang sangat menyayangi putra-putranya itu, namun sekali lagi mereka harus kecewa. Nabi Ayyub tetap berserah diri kepada Allah. Ia memang bersedih hati dan menangis, tapi jiwa dan hatinya tetap kokoh dalam keyakinan bahwa jika Allah yang Maha Pemberi menghendaki sesuatu, tak ada seorang pun yang mampu menghalangi-Nya.
Iblis yang masih belum puas, lalu menaruh baksil di sekujur tubuh Nabi Ayyub sehingga beliau menderita penyakit kulit yang sangat menjijikkan, hingga ia dijauhi sanak famili dan tetangganya. Istri-istrinya banyak yang lari meninggalkannya, hanya seorang saja yang tetap setia mendampinginya, yaitu Rahmah. Lebih parah lagi, para tetangga Nabi Ayyub AS yang tidak mau ketularan penyakit yang diderita Nabi Ayyub, mengusirnya dari kampung mereka. Maka pergilah Nabi Ayyub dan istrinya Rahmah ke sebuah tempat yang sepi dari manusia.
Waktu 7 tahun dalam penderitaan terus-menerus memang merupakan ujian terberat bagi Ayyub dan Rahmah, namun Nabi Ayyub tetap bersabar dan berzikir menyebut Asma Allah. Diriwayatkan bahwa istrinya berkata, “Hai Ayyub, seandainya engkau berdoa kepada Tuhanmu, niscaya dia akan membebaskanmu.”
Namun Nabi Ayyub AS malah menjawab, “Aku telah hidup selama 70 tahun dalam keadaan sehat, dan Allah baru mengujiku dalam keadaan sakit selama 7 tahun. Ketahuilah, itu amat sedikit dibandingkan masa 70 tahun.”
Begitulah, Nabi Ayyub menerima ujian dari Allah SWT dengan sabar dan ikhlas. Ia telah hidup dalam kenikmatan selama puluhan tahun, maka ia merasa malu untuk berkeluh kesah kepada Allah SWT atas kesengsaraan yang hanya beberapa tahun. Sakit Nabi Ayyub membuat tidak ada lagi anggota badannya yang utuh kecuali jantung/hati dan lidahnya. Dengan hati dan lidahnya ini, Nabi Ayyub AS tak pernah berhenti berzikir kepada Allah, baik di waktu pagi, siang, sore dan malam hari.
Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, Rahmah terpaksa bekerja pada suatu pabrik roti. Pagi ia berangkat, sorenya ia kembali ke rumah pengasingan. Namun lama-kelamaan majikannya mengetahui bahwa Rahmah adalah istri Nabi Ayyub yang memiliki penyakit berbahaya. Mereka khawatir Rahmah akan membawa baksil yang dapat menular melalui roti, oleh sebab itu mereka kemudian memecatnya.
Rahmah yang setia ini masih memikirkan suaminya. Ia meminta agar majikannya berkenan memberinya hutang roti, tetapi permintaannya ini ditolak. Majikannya hanya mau memberinya roti jika ia memotong gelung rambutnya yang panjang, padahal gelung rambut itu sangat disukai suaminya. Namun demi untuk mendapatkan roti, Rahmah akhirnya setuju dengan usul majikannya itu.
Ternyata, perbuatannya itu membuat Ayyub menduga bahwa ia telah menyeleweng. Akhirnya pada suatu hari, mungkin karena sudah tidak tahan dengan penderitaan yang terus-menerus dihadapi, Rahmah pamit untuk meninggalkan suaminya. Ia beralasan ingin bekerja agar dapat menghidupi suaminya. Nabi Ayyub melarangnya, tapi Rahmah tetap bersikeras sembari berkeluh kesah. Sesungguhnya tindakan Rahmah ini pun tak lepas dari peranan iblis yang menghasutnya untuk meninggalkan suaminya Ayyub.
Mendengar keluh kesah istrinya, berkatalah Ayyub, “Kiranya kau telah terkena bujuk rayu iblis, sehingga berkeluh kesah atas takdir Allah. Awas, kelak jika aku telah sembuh kau akan kupukul seratus kali. Mulai saat ini tinggalkan aku seorang diri, aku tak membutuhkan pertolonganmu sampai Allah menentukan takdir-Nya.”
Dengan demikian tinggallah kini Nabi Ayyub seorang diri setelah ia mengusir Rahmah istrinya. Di tengah kesendiriannya, Nabi Ayyub AS bermunajat kepada Allah SWT dengan sepenuh hati memohon rahmat dan kasih-Nya. Allah SWT menerima doa Nabi Ayyub AS yang telah mencapai puncak kesabaran dan keteguhan iman dalam menghadapi ujian dan cobaan. Berfirmanlah Ia kepada Nabi Ayyub, “Hantamkanlah kakimu ke tanah. Dari situ akan memancar air yang dengannya kau akan sembuh dari penyakitmu. Kesehatanmu akan pulih jika kau mempergunakannya untuk minum dan mandi.”
Setelah meminum dan mandi dengan air itu, Ayyub pun sembuh seperti sedia kala. Sementara itu Rahmah istrinya yang telah pergi meninggalkannya, rupanya lama-kelamaan merasa kasihan dan tak tega membiarkan suaminya seorang diri. Ia datang untuk menjenguk, namun ia tak mengenali lagi suaminya, karena kini Nabi Ayyub tampak lebih sehat, lebih segar, dan lebih tampan. Nabi Ayyub sangat gembira melihat istrinya kembali, namun ia teringat sumpahnya yaitu ingin memukul istrinya seratus kali. Ia harus melaksanakan sumpah itu, tapi ia bimbang karena bagaimanapun istrinya telah turut menderita sewaktu bersamanya 7 tahun ini. Tegakah ia memukulnya seratus kali?
Allah mengetahui kebimbangan yang dirasakan Nabi Ayyub AS. Maka datanglah wahyu Allah kepada Nabi Ayyub, “Hai Ayyub, ambillah lidi seratus batang dan pukullah istrimu sekali saja. Dengan demikian tertebuslah sumpahmu.”
Nabi Ayyub merasa lega dengan jalan keluar yang diwahyukan Allah itu. Dengan lidi seratus, dipukulnya istrinya dengan satu kali pukulan yang sangat pelan, maka sumpahnya telah terlaksana.
Berkat kesabaran dan keteguhan imannya, Nabi Ayyub AS dikaruniai lagi harta benda yang melimpah ruah. Dari Rahmah, ia kemudian memperoleh anak bernama Basyar yang kemudian hari menjadi seorang nabi yang dikenal dengan nama Zulkifli.
Sumber : http://johanfirdaus.zo-ka01.com/2009/09/kisah-nabi-nabi-nabi-ayyub-as/
Minggu, 01 September 2013
Posting with Allah part 4 ( cerita a kecil dan A BESAR)
Dalam sebuah buku yang
saya baca dengan judul la yahtasib yang di tulis oleh Umyung mustika, tertulis
bahwa dalam berdo’a jangan pernah posisikan Allah sebagai Pembantu. Dalam
berdo’a kita sering memposisikan Allah sebagai assisten atau pembantu” misalnya
kita minta di berikan ini, itu dansebagainya. Padahal Allah lah yang menilai
kita pantas atau tidak mendapatkan sesuatu. Karena Allah penya Rencana yang
terbaik buat hamba-Nya.
Ingat kita selalu
menuntut meminta berikan aku ini, itu, aku ingin begini, ingin begitu, Rizki aku,
Jodoh aku, Harta aku, dan aku aku dengan a kecil mari kita ubah huruf a (kecil)
menjadi A (BESAR). Maksudnya ketika kita meminta dengan A besar berikan Aku
ini, itu, Aku ingin begini, ingin begitu, Rizki Aku, Jodoh Aku, Harta Aku.
Maksudnya ? ya benar kita sandarkan semuanya kepada Allah dan kita harus meyakini
baik menurut Allah baik juga menurut kita. Rizki Aku rikzi yang Allah ridhoi,
jodoh Aku jodoh yang baik menurut Allah, sesudah itu kita benar benar pasrahkan
pada Allah, biar Allah yang ingin menjadikan kita seperti apa yang
dikehendaki-Nya. Tapi yang sering terjadi kita malah melawan, kita maunya
begini, maunya begitu, kalau kita begini kita akan begini.
Pernah membeli
sepatu ? atau apapun barang yang mempunyai ukuran ? kalo begitu mari kita ingat
ingat.! Pernahkah kita membli barang yang menurut kita bagus bentuknya,
warnanya namun kektika kita hendak membelinya dan kita coba ternyata barang itu
tak cukup, kebesaran, atau kekecilan, sehingga kita mendapatkan barang yang
merupakan pilihan kedua atau ketiga dan seterusnya sampai benar benar cocok dan
pas dengan ukuran yang kita punya atau inginkan. Apa artinya mungkin kita bisa
jawab, ya gak selamanya yang menurut kita bagus dan yang terbaik itu cocok dan
pas untuk kita , ,
Berteriak Sekeras
apa pun kita dalam berdo’a, Allah maha
mendengar rintihan suara hati kecil
atas apa yang benar benar kita butuhkan, bukan kah Allah
maha mengetahui. ingat bukan berarti
Allah tidak mengabulkan apa yang kita pinta tapi mari kita selidiki sebelumnya,
pertanyaannya apakah benar yang kita pinta itu apa yang benar benar kita
butuhkan , , dan apakah kita juga sudah pantas mendapatkannya.
Ada sebuah kisah
pemuda biasa saja sebut saja namanya Rahman. Anak dari keluarga sederhana dan
mungkin lebih cenderung kekurangan. Semenjak kelas 3 SMP dia menginginkan
Sebuah sepeda motor, namun dia sadar dengan keadaan keluarganya, dan tak mau
merepotkan dan menambah beban kedua Orangtua nya. Dia selalu berdo’a dalam
setiap ibadahnya karena sangat meninginkan sepeda motor namun sampe dia lulus
SMA do’anya belum kunjung terkabul. Sampai akhirnya dia bekerja dan mendapatkan
penghasilan sendiri. Dan saat itu dia membutuhkan kendaraan untuk bulak balik
kerja ya sebut saja minimal dia membutuhkan sebuah sepeda motor untuk
memfasilitasi kerjanya. Dan apa yang terjadi. ya pada usia 20 dia membeli motor
atas nama sendiri dan dengan uang dari hasil penghasilannya sendiri. Mantapkan
Allah selalu tepat waktu, dan memberi apa yang kita butuhkan juga dari
kepantasannya. Bukankah dia jadi lebih bangga dengan karena selain do’anya
terkabul dia jjuga bisa membeli motor dengan nama sendiri di SKKB nya dan yang
lebih penting dari hasil keringatnya sendiri sehingga dia bisa mendapatkan
kepuasan tersendiri. Sungguh Ada rencana yang terselip di setiap kejadian. Dan
gak ada yang sia sia .....
Dari kisah di atas
kita bisa memetik hikmah dan pelajaran yakni bahwa do’a itu pasti dikabul. Dan
jangan pernah takut do’a kita tak di terima atau di kabul. Allah tak akan
pernah lupa. Bagaimana mungkin kita sebagai orang muslim dan mukmin tidak di
dengar do’a nya sedangkan Setan yang seburuk-buruknya makhluk, ketika dia
meminta tenggang waktu kepada Allah untuk memperpanjang hidupnya hingga hari
kiamat, di kabulkan permintaannya.
Ingat seorang anak
kecil pun ketika menginginkan sesuatu sampai merengek menangis dan n lama
kelamaan orang tuanya pun risih dan gak tega dengan anaknya yang menangis
sehingga apa yang di inginkan anak itu pun diturutinya dengan menyelipkan
nasihat, jangan menagis lagi. Jangan cengeng .
Langganan:
Postingan (Atom)